Jumat, 06 Mei 2011

idiom atau ungkapan



Idiom
Idiom adalah suatu ungkapan (seperti istilah atau frase) yang maknanya tak dapat diturunkan dari definisi langsung dan penyusunan bagian-bagiannya, melainkan merupakan suatu makna tak langsung yang hanya dikenal melalui penggunaan umum. Dalam linguistik, idiom umumnya dianggap merupakan gaya bahasa yang bertentangan dengan prinsip penyusunan(principle of compositionality), walaupun masih terjadi perdebatan mengenai hal tersebut.
Idiom dapat membingungkan orang yang belum terbiasa dengannya. Orang-orang yang belajar suatu bahasa baru harus mempelajari ungkapan idiom bahasa tersebut sebagaimana mereka mempelajari kosa kata lain dalam bahasa itu. Pada kenyataannya, banyak kata dalam bahasa alami yang berasal sebagai idiom tapi telah terasimilasi baik sehingga justru kehilangan makna langsungnya.



Idiom / Ungkapan dan Peribahasa dalam Bahasa Indonesia

1. Idiom
Idiom atau disebut juga dengan ungkapan adalah gabungan kata yang membentuk arti baru di mana tidak berhubungan dengan kata pembentuk dasarnya. Berikut ini adalah beberapa contoh idiom dengan artinya :
- cuci mata = cari hiburan dengan melihat sesuatu yang indah
- kambing hitam = orang yang menjadi pelimpahan suatu kesalahan yang tidak dilakukannya
- jago merah = api dalam kebakaran
- kupu-kupu malam = wanita penghibur atau pelacur komersial
- ringan tangan = kasar atau suka melakukan tindak kekerasan
- hidung belang = pria yang merupakan pelanggan psk atau pekerja seks komersil
2. Peribahasa
Peri bahasa adalah suatu kiasan bahasa yang berupa kalimat atau kelompok kata yang bersifat padat, ringkas dan berisi tentang norma, nilai, nasihat, perbandingan, perumpamaan, prinsip dan aturan tingkah laku. Berikut ini adalah beberapa contoh peribahasa dengan artinya :
- Di mana bumi dipijak di sana langit di junjung
artinya : jika kita pergi ke tempat lain kita harus menyesuaikan, menghormati dan toleransi dengan budaya setempat.
- Tiada rotan akar pun jadi
artinya : tidak ada yang bagus pun yang jelek juga tidak apa-apa.
- Buah yang manis biasanya berulat
artinya : kata-kata yang manis biasanya dapat menyesatkan atau menjerumuskan.
- Tak ada gading yang tak akan retak
artinya : Tidak ada satu pun yang sempurna, semua pasti akan ada saja cacatnya



Bahan Ajar Ini Disusun Oleh Saifuddin A. S.Pd.
SMPN 2 Bandar Pacitan
PERIODISASI SASTRA
Periode sastra Indonesia dibagi menjadi beberapa versi berdasar pendapat beberapa tokoh sastra :
1. Ajib Rosidi, membagi :
Masa kelahiran (awal abad XX – 1945)
1 Periode awal abad XX-1933
2 Periode 1933-1942
3 1942-1945
Masa perkembangan (1945-kini)
1 1945-1953
2 1953-1961
3 1961- kini
2. HB. Jassin, membagi :
1 Sastra melayu lama
2 Sastra Indonesia modern
3. JS. Badudu, membagi :
Kesusastraan lama (angkatan lama)
1 Masa purba
2 Masa hindu Arab
Kesusastraan peralihan
1 Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi
2 Balai pustaka
Kesusastraan baru
1 PB
2 Angkatan 45 / angkatan baru
3 Angkatan muda
4. Usman Effendi :
1 Kesusastraan lama (…. -1920)
2 Kesusastraan baru (20-45)
3 Kesustraan modern (45-….)
5. Zuber Usman :
1 Kesusastraan Lama
2 Zaman peralihan (Munsyi)
3 Kesusastraan Baru
a. Z. BP (1908)
b. Z. PB (1933)
c. Z. Jepang (1942)
d. Z. 45
6. Sabaruddin Ahmad :
Kesastraan Lama
a. Dinamisme
b. Hinduisme
c. Islamisme
Kesastraan Baru
a. Masa Abdullah
b. Masa BP
c. Masa PB
d. Masa 45
FRASE
Morfem adalah unsur-unsur pembentuk kata.
Kata ialah bagian atau unsur kalimat yang dapat berdiri sendiri
Frase ialah satuan gramatik yang terdiri atas gabungan dua kata atau lebih yang tidak melebihi
batas fungsi, jika ketiganya diurutkan maka :
Morfem ? kata ? frase
Ciri-ciri frase :
1 Minimal dua kata atau lebih
2 Ada ikatan makna yang membentuk 1 kesatuan
3 Tidak melebihi fungsi (S-P-O-K)
Frase dapat terjadi dari :
1. Kata dengan kata ? gadis cantik, hati hancur, orang tua
2. Frase dengan frase ? petani muda / sangat rajin, cincin berlian / milik Aladdin
3. Kata dan frase ? perwira / yang gagah berani, negeriku / indah permai
Macam frase :
F. eksosentris (frase yang unsur-unsurnya tidak dapat menggantikan fungsi frase tersebut)
Jenis frase eksosentris :
1 Preposisional ( di atas, kepada kawan, untuk dinikmati, bagi mereka, dengan baik)
2 Objektif / pelengkap ( membaca buku, menulis karangan, dsb)
3 Predikatif (ayahku datang, hujan turun, kayu potong)
4 Konjungtif ( ketika / ayah datang, asal / rajin belajar, karena / banjir menggenang)
F. endosentris (frase yang mempunyai distribusi dan fungsi yang sama dengan salah satu atau
semua unsurnya)
Jenis frase endosentris :
Atributif / bertingkat (salah satu unsur sebagai inti, yang lain sebagai penjelas)
Dibagi menjadi :
1 DM / diterangkan menerangkan (ayah saya, anak rajin, rumah makan)
2 MD / menerangkan diterangkan ( sudah membaik, dua buku, akan pergi)
3 MDM (akan senang sekali, dua anak laki-laki, seikat sayuran segar)
Koordinatif / setara (semua unsur frase setara atau sama)
1 Nomina (meja kursi, ayam itik)
2 Verba (makan minum, duduk berdiri, datang pergi)
3 Adjektif (besar kecil, indah mempesona, lemah lembut)
4 Sama arti ( cerdik pandai, mara bahaya)
5 Antonim ( tua muda, besar kecil, duduk berdiri, dsb)
6 Himpunan (nusa bangsa, kampung halaman, garpu sendok )
7 Keterangan (cerdik tangkas, cermat tepat)
8 Bilangan (dua puluh satu, satu dan dua, enam puluh lima)
Apositif / keterangan. Contoh : Ahmad – adik kandung Doni – suka berjoget
F. idiomatik (frase yang maknanya telah menyatu sehingga membentuk makna baru)
Dibagi menjadi 2 :
a. Idiom penuh (makna tergambar dari seluruh unsur frase tersebut)
Contoh : memeras keringat, membanting tulang, menjual gigi
b. Idiom sebagian (salah satu unsur tetap makna leksikal)
Contoh : daftar hitam, harga mati
PERIODISASI SASTRA
Angkatan Balai Pustaka disebut juga angkatan 20-an, angkatan Sitti Nurbaya. Disebut angkatan
Sitti Nurbaya karena dulu roman yang paling populer pada masa itu adalah Sitti Nurbaya, walaupun
Sitti Nurbaya bukam merupakan novel atau roman yang pertama diciptakan. Balai Pustaka berasal
dari Komisi Bacaan Rakyat yang berubah nama pada tahun 1917.
Ciri-ciri Balai Pustaka :
1 Unsur pendidikan menonjol
2 Bahasa klise dan diperindah
3 Kebanyakan berlatar belakang adat minang
4 Pertentangan antara kaum tua dengan kaum muda
5 Sudut pandang orang ke-3
6 Pakaian ala orang barat
7 Tokoh berwatak hitam putih
8 Dialognya panjang-panjang
9 Diselingi isi surat dan pantun
10 Romantis sentimentil
Puncak karya sastra :
1 Sitti Nurbaya (M. Rusli)
2 Azab & Sengsara (Merari Siregar), merupakan novel pertama
Pengarang / pujangga BP :
Marah Rusli
1 Sitti Nurbaya
2 La Hami
3 Anak dan Kemenakan
4 Memang Bodoh
Nur St Iskandar
1 Neraka Dunia
2 Katak hendak jadi lembu
3 Hulubalang raja
4 Salah pilih
5 Karena mertua
6 Mutiara
7 Jangir bali
Abdul Muis
1 Salah asuhan
2 Sebatang kara
3 Surapati
4 Pertemuan jodoh
Aman Datuk Majoindo
1 Si Doel anak Betawi
2 Menebus dosa
3 Si cebol merindukan bulan
4 Rusmala dewi
5 Gadis durhaka
I Nyoman Panji Tisna
1 Sukreni gadis Bali
2 Ni Rawit ceti penjual orang
Tulis Sutan Sati
1 Tidak tahu membalas budi
2 Sengsara membawa nikmat
3 Sabai nan aluih
4 Tak disangka
5 Syair Sitti Markamah yang sholeh
6 Syair Rosina
M. Siregar
1. Azab dan sengsara
2. Si Jamin dan Johan
Hamka
1 Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
2 Di bawah lindungan Kabah
3 Ayahku
4 Merantau ke Deli
5 Kena fitnah
6 Dijemput mamaknya
M. Kasim
1 Teman duduk (cerpen)
2 Pemandangan dalam dunia anak-anak
3 Muda teruna
PUJANGGA BARU
Pujangga Baru adalah nama majalah bahasa dan sastra yang terbit tahun 1933, diasuh oleh STA,
Amir Hamzah, Armyn Pane, (pelopor Pujangga Baru). PB nerupakan tanda lahirnya sastra Indonesia
dan berakhirnya sastra Melayu. Tujuan PB adalah kemajuan bahasa, sastra dan budaya Indonesia.
Ciri-ciri PB :
1 Bertemakan persatuan
2 Romantis idealis
3 Puncak karya sastra : Layar Terkembang
4 Pengaruh angkatan 1880 negeri Belanda (terutama YE. Tatengkeng)
Sastrawan PB :
STA (Sutan Takdir Alisyahbana)
1 Tebaran Mega
2 Puisi Lama
3 Puisi Baru
4 Layar Terkembang
5 Dian Tak Kunjung Padam
6 Anak Perawan di Sarang Penyamun
7 Tak Putus Dirundung Malang
8 Tata Bahasa Indonesia I, II
9 Grotta Azzura
10 Kalah dan Menang
11 Niko Dan
Amir Hamzah (Raja penyair angkatan PB, ciri puisinya : religius Islam, sendu, sedih)
1 Nyanyi Sunyi (1937)
2 Setanggi Timur (1939)
3 Buah Rindu (1941)
Sanusi Pane (Puisinya mengandung filsafat Hindu)
1 Puspa Mega(1927)
2 Madah Kelana (1931)
3 Manusia Baru Drama /
4 Sandyakalaning Majapahit Kumpulan drama
Hamidah
1 Kehilangan Mestika
2 Dsb.
Armyn Pane
1 Belenggu
2 Lenggang Kencana
3 Jiwa Berjiwa
4 Kisah Antara Manusia
5 Jinak-jinak Merpati
Suman HS (pelopor cerpen Indonesia)
1. Mencari Pencuri Anak Perawan
2. Kawan Bergelut (kumpulan cerpen 1938)
3. Kasih Tak Terlerai
4. Percobaan Setia
JE. Tatengkeng
1. Anakku
2. Rindu Dendam
Perbedaan antara BP dengan PB :
1 Balai Pustaka mempermasalahkan paham daerah / adat sedangkan PB meningkat pada masalah
paham kebangsaan, nasionalisme, perjuangan dan emansipasi
2 Balai Pustaka bersifat romantis sentimentil, PB romantis idealis
3 Pada BP bertema masalah kaum muda VS kaum tua serta kawin paksa,sedang pada PB bertema
persatuan
ANGKATAN 45
Angkata 45 merupakan istilah pemberian Rosohan Anwar. Selain nama tersebut terdapat nama lain,
yaitu :
1 Angkatan Chairil Anwar
2 Angkatan Jepang
3 Angkatan Pembebasan
Pelopor angkatan 45 adalah :
1 Puisi : Chairil Anwar
2 Prosa : Idrus
3 Drama : Usmar Ismail
Ciri-ciri angkatan 45 :
1 Mementingkan isi daripada bentuk
2 Pengaruh pujangga dunia (Rusia, Itali, Belanda, Prancis)
3 Pandangan humanisme liberal
4 Bercorak realistis
5 Modern, munculnya karya sastra modern pendobrak nilai-nilai lama dalam mencipta karya
sastra
Sastrawan angkatan 45 :
ANGKATAN 66
Angkatan 66 adalah nama pemberian HB Jassin.
Sebab-sebab lahirnya angkatan 66:
1 Pergolakan politik masyarakat
2 Wujud demonstrasi anti orde lama
3 Lahirnya puisi dan karya sastra anti tirani lainnya. Contoh :
a. Tirani dan Benteng (Taufik Ismail / Nur Fajar)
b. Mereka Telah Bangkit (Bur Rasuanto)
c. Perlawanan (Mansyur Samin)
d. Pembebasan (Abdul Wahid Situmeang)
Ciri-ciri angkatan 66 :
a. Tema protes sosial dan politik
b. Bercorak realisme
c. Karya dominan kritik sosial
Sastrawan angkatan 66 :
SASTRA
Sastra berarti tulisan, karya, kitab. Berasal dari bahasa Sanskerta ?astra. Dari sastra kemudian
diturunkan kata susastra dan kesusastraan. Susastra berarti bahasa atau tulisan indah, sedangkan
kesusastraan berarti karya manusia dengan bahasa sebagai alat atau media pencurahan baik lisan
maupun tulisan yang menimbulkan rasa estetis dan dapat menggetarkan jiwa pembacanya.
Aliran sastra adalah aliran atau haluan pendapat yang dijadikan pedoman pengarang sehubungan
dengan karya sastra yang diciptakannya. Aliran sastra dibagi menjadi :
1. Romantisme : mengutamakan perasaan dan dunia khayal, penuh mimpi, fantasi yang serba
indah, contoh Sitti Nurbaya dan Hikayat Si Miskin
2. Realisme : melukiskan kenyataan yang terdapat dalam kehiduman sebenarnya. Contoh : Dari
Ave Maria, Keluarga Gerilya
3. Naturalisme : melukiskan kenyataan lebih dari realisme, jelek tetap jelek, baik dan
buruk bahkan sesuatu yang menjijikkan. Contoh : Belenggu dan Jalan Tak Ada Ujung
4. Idealisme : melukiskan cita-cita yang muluk-muluk, melambung. Contoh : Layar Terkembang,
Pertemuan Jodoh
5. Simboli : melukiskan sesuatu dengan lambang-lambang. Contoh : Tinjaulah Dunia Sana,
Keluhan Pohon Mangga
6. Psikologisme : mengungkapkan perilaku kejiwaan manusia, tidak sekedar perilaku ilmiah.
Contoh : Belenggu dan Atheis
7. Surealisme : melukiskan angan-angan dan kenyataan yang bercampur aduk, meloncat-loncat
dari khayal ke alam nyata dan sebaliknya, penuh kesuraman. Contoh : Merahnya Merah, Berhala
8. Mistisisme : melahirkan ciptaan-ciptaan berdasar hal-hal gaib, penuh misteri. Contoh :
Nyanyi sunyi dan Syair Perahu
9. Ekspresionisme : melukiskan pandangan jiwa, curahan rasa cinta, benci, cetusan perasaan
jiwa sendiri. Contoh : Doa
10. Impresionisme : lukisan segala sesuatu yang dilihat dan dialami tetapi yang dipentingkan
hanya kesan sesaat, didasarkan penginderaan semata. Contoh ; sastra Zaman Hindu dan Islam,
terjemahan “Maria Rilke” oleh Chairil
Aliran sastra di atas dibagi menjadi dua kategori besar :
1. Realisme, terdiri dari : Naturalisme (Rendra) dan Impresionisme
2. Ekspresionisme (Chairil Anwar), terdiri dari simbolisme, psikologisme, mistis dsb
Karya sastra dibagi menjadi 3 :
Prosa
Prosa berasal dari bahasa latin oratis propersa (ucapan langsung). Prosa adalah karya sastra
yang menggunakan media bahasa secara bebas, tidak terikat aturan-aturan seperti dalam sajak.
Unsur-unsur dalam cerita / prosa fiksi dibagi menjadi 2:
1. Unsur intrinsik, unsur dalam karya sastra yang membangun cerita karya sastra itu sendiri
Unsur intrinsik terdiri dari :
a. Tokoh / karakter / watak
b. Plot (alur cerita)
c. Setting (latar belakang cerita)
d. Tema
e. Point of view (sudut pandang pengarang)
f. Amanat
g. Gaya bahasa
2. Unsur ekstrinsik, unsur diluar karya sastra yang turut membangun dan melatar belakangi
terciptanya karya sastra itu
Unsur ekstrinsik terdiri dari :
a. Sejarah
b. Latar belakang masyarakat saat karya sastra itu diciptakan
c. Latar belakang pengarang
d. Agama
e. Sosial budaya
Keterangan unsur intrinsik :
1. Alur cerita dibagi menjadi 3:
a. Alur progresif / linear / terusan / maju : alur yang bergerak maju dari awal sampai
dengan akhir cerita (Belenggu-Armyn Pane, Salah Asuhan-Abdul Muis)
b. Alur flashback / sorot balik / mundur : alur yang menceritakan peristiwa secara mundur
atau kilas balik (Atheis-Achdiat Kartamiharja)
c. Alur campuran / majemuk / compound plot : campuran alur maju dengan alur mundur
2. Tokoh, cara menampilkannya :
a. Pengarang menjelaskan secara langsung
b. Melalui percakapan para pelakunya sendiri, atau dalam SMU ada 3 cara :
c. Metode analisis, yaitu deskripsi tokoh secara langsung baik fisik, psikis, kedudukan
atau status sosialnya
d. Metode dramatisasi, yaitu deskripsi tokoh tidak secara langsung tetapi melalui alur
cerita
e. Metode kontekstual, yaitu deskripsi watak tokoh melalui konteks bahasa, misalnya buaya =
hidung belang
3. Amanat / hikmah adalah pesan yang disampaikan pengarang pada pembaca, bisa lebih dari
satu amanat
4. Tema adalah gagasan atau ide yang mendasari dan menjiwai cerita, ada 2 :
a. Tema tradisional adalah tema yang berpangkal pada pola lama (baik buruk, benar salah,
pengabdian masyarakat, cobaan atau kesulitan berserah pada Tuhan)
b. Tema modern yaitu tema yang berpangkal pada pola berpikir modern (kenyataan / fakta,
perlawanan terhadap nasib)
5. Watak adalah segala cara melukiskan sikap dan kepribadian para pelaku / tokoh termasuk
sikap lahir dan batin. Watak ada 3:
a. Watak psikologis : kejiwaan tokoh / temperamen (sabar, baik, pemarah, pendendam dsb)
b. Watak pisik : ciri dan bentuk tubuh
c. Watak sosiologi : kedudukan dan pangkat tokoh dalam masyarakat
6. Macam sudut pandang :
a. Pengarang sebagai pelaku utama cerita (orang I sertaan) : menggunakan “aku” dalam
cerita, seolah dialami oleh tokoh atau pengarang sendiri
b. Pengarang ikut main tetapi bukan sebagai pelaku utama (orang I tak sertaan) :
mengisahkan orang lain sebagai tokoh utama, pengarang juga terlibat dalam cerita
c. Pengarang serba tahu (orang ke III serba tahu) : dengan “dia” , “ia”, “mereka”,
pengarang serba tahu, bahkan pikiran para pelaku
d. Pengarang sebagai peninjau (orang ke III terbatas) : pengarang hanya menceritakan apa
yang dilihatnya, pengarang tidak tahu jalan pikiran atau apa yang dilakukan oleh pelaku cerita.
Prosa terbagi menjadi 3 :
1. Prosa lama
Terdiri dari :
1. Hikayat (cerita tentang raja-raja)
2. Panji (cerita kepahlawanan/ epos/ wiracarita/ hikayat jawa)
3. Tambo (cerita dan sejarah)
4. Dongeng, terdiri dari :
a. Fabel (cerita binatang)
b. Legenda (cerita tentang asal-usul terjadinya tempat)
c. Mite (cerita atau dongeng makhluk halus, roh, dewa dengan unsur gaib)
d. Sage (sejarah, cerita sejarah yang dibumbui dengan kisah pahlawan yang fantastis)
2. Prosa baru
Terdiri dari :
a. Novel, certa yang mengisahkan kehidupan luar biasa yang dialami oleh tokoh cerita yang
mengakibatkan perubahan nasib tokoh tersebut.
b. Roman, cerita yang mengisahkan sebagian besar kehidupan tokoh hingga tokoh tersebut
meninggal dunia.
c. Cerpen, cerita yang melukiskan satu bagian peristiwa kehidupan yang dialami oleh
pelakunya
d. Kisah, cerita tentang hal-hal yang dialami dan diamati pengarang dalam perjalanan
e. Essay, kupasan masalah sosial, budaya, sastra / karangan yang mengupas suatu pokok
masalah yang dipengaruhi oleh pikiran, ide,dan cita-cita pengarang sehingga karangan tersebut
bersifat subjektif
Contoh : Kesusastraan Indonesia modern dalam kritik dan essay – HB Jassin
Tentang Amir Hamzah – LH Bohang
f. Kritik, adalah karangan yang mengulas baik atau buruknya karya sastra
g. Autobiografi, adalah karangan yang menceritakan riwayat hidup pengarang sendiri
Contoh : Hikayat Abdullah-Abdullah
Kenang-kenangan hidup-HAMKA
h. Biografi, adalah karangan yang menceritakan atau menguraikan riwayat hidup orang lain
Contoh : Ir. Soekarno – Yunan Nasution
i. Bunga rampai : karangan yang memuat berbagai macam jenis karangan yang dikarang oleh
orang lain, bentuk dan isinya bermacam-macam. Contoh : sepuluh orang sastrawan Indonesia – Usman
Effendi
3. Prosa liris
Adalah jenis karangan yang mementingkan irama dan pilihan kata
Perbedaan antara prosa lama dengan prosa baru :
1. Statis
2. Istana sentris
3. Alam khayal/imajinasi
4. Anonim
5. Dipengaruhi India dan Arab
6. Dinamis
7. Masyarakat sntris
8. Dunia nyata / realistis
9. Pengarang disebut namanya
10. Tertulis
11 Kolektif (milik bersama) dan lisaniah
12 Aliran romantis
Ciri-ciri prosa :
1 Bebas dari aturan puisi
2 Kata-kata bersifat denotasi
3 Disusun perbab menjadi sebuah wacana baru
4 Terdapat tokoh cerita
5 Terdapat amanat cerita / kesan / ajaran
6 Menampilkan konflik, alur, setting dan unsur pembangun lain
Puisi
Puisi adalah jenis karangan yang dalam penyajiannya mengutamakan keindahan bahasa dan kepadatan
makna
Puisi menurut bentuknya dibagi menjadi 2 :
1. Puisi bebas (puisi yang tidak terikat bait, baris, dan rima)
2. Puisi berpola (puisi yang susunan lariknya mempunyai bentuk-bentuk berpola yang
geometris, terikat aturan baris dan bait.
Unsur puisi :
1 Tema : ide atau gagasan yang melandasi puisi
2 Suasana : gambaran keadaan dan perasaan dari penyair
3 Simbol : upaya menyatakan sesuatu diluar arti kata
4 Musikalitas : rangkaian kata dalam keseluruhan sajak
5 Gaya bahasa : majas dalam puisi
6 Citraan atau imaji : gambaran angan oleh penyair dalam puisi
Citraan dapat berarti gambaran atau kesan yang ditimbulkan oleh setiap kata atau kalimat dalam
puisi.
Citraan dibagi menjadi :
1. Citraan penglihatan (teja cerawat gemilang, menjadi pudar padam cahaya)
2. Citraan pendengaran (blek-blok, blek-blok hanya selagu sepanjang dendang)
3. Citraan perabaan (selembut butiran embun)
4. Citraan pengecapan (manis gula-gula, bunyi merek promosi)
5. Citraan penciuman (harum berbau, semerbak mewangi)
6. Citraan gerak (daun bergoyang menjatuhkan embun)
Ciri puisi :
1 Karangan terikat
2 Terdiri dari larik dan bait
3 Terdapat pertalian makna tiap baitnya
4 Mempunyai irama yang merupakan unsur keindahan puisi
5 Menggunakan kata konkret maupun abstrak
Nilai puisi :
a. Kenikmatan : kenikmatan dalam membaca puisi/merasakan keindahan puisi saat membaca
puisi tersebut.
Unsur kenikmatan puisi :
1 Keindahan bunyi (rima dan irama)
2 Keindahan diksi
3 Keindahan bahasa kias/ungkapan/majas
4 Keindahan citraan
b. Hikmah : memahami pesan, amanat, nasihat yang dikandung dalam puisi sehingga pembaca
menjadi arif dan lebih mengerti
Irama adalah : keras lembut, tinggi rendah (nada), panjang pendek (tempo), dalam puisi.
Rima adalah : persamaan bunyi akhir dalam puisi
Jenis rima adalah :
Berdasar pengulangan bunyi :
1 Rima penuh / sempurna, ulangan suku kata akhir semua sama : a a a a
2 Rima tak sempurna / asonansi, ulangan suku kata haya sebagian yang sama : dah kah dah
tah
3 Rima aliterasi ulangan bunyi pada bagian awal suku kata :
a. sumpah……
b. sungguh….
c. Sujud…..
d. Susah …..
4 Rima mutlak terdiri atas pengulangan seluruh kata,
a. Mereka…….
b. Mereka …….
c. Mereka ……..
5 Rima rangkai, tersusun sama semua larik puisi
a. a a a a
6 Rima rangka, perulangan dengan perubahan konsonan dalam kata : mondar-mandir,
pontang-panting
Berdasar letak rima dalam baris :
1. Rima awal,rima yang terletak pada awal baris
Dari……..
Dari……….
2. Rima tengah, rima di tengah baris puisi
………aku………
………aku………
3. Rima akhir, rima yang terletak di akhir baris
…………….kemari
…………….kucari
Berdasar susunan vertikal :
1 Rima sama/terus/akhir baris sama : aaaa bbbb
2 Rima bersilang : ab ab cd cd
3 Rima berpeluk : abba deed
4 Rima berpasangan : aa bb cc
5 Rima patah : aaba
Hal yang perlu diperhatikan dalam membaca puisi adalah :
1 Pelafalan / pembacaan (jelas, jernih, dan lancar)
2 Pengelompokkan kata harus tepat
3 Intonasi benar
4 Penjiwaan serasi
5 Mimik / ekspresi dan gestur tepat
Ragam bahasa puisi :
1. bahasa indah/estetis
2. mengandung banyak makna
3. terkandung simbol-simbol/bahasa piguratif yang mengacu pada makna atau maksud tertentu
dari pengarang
4. bersifat konotatif, penuh dengan penggunaan gaya bahasa atau majas
5. singkat, padat, sarat akan arti atau makna
Keindahan puisi terletak pada :
1 Diksi atau pilihan kata
2 Pengelompokan kata
3 Ungkapan
4 Gaya bahasa
5 Perulangan bunyi
Jenis puisi :
Puisi Lama
1 Pantun ( puisi lama 4 larik, berima silang abab, sampiran dan isi)
2 Karmina (puisi kilat, 2 larik, berisi nasihat, cinta, sendau gurau, berima aa)
3 Mantra (puisi yang berisi doa pemujaan)
4 Talibun (puisi 4 larik/genap, abcd abcd, ada isi dan sampiran)
5 Seloka (pantun berkait, 2 bait, ab ab, sindiran)
6 Gurindam (puisi tamil, 2 barisa, aa, berisi nasihat atau sindiran)
7 Syair (4 baris, aaa, tidak ada sampiran, bersi dongeng atau cerita)
8 Bidal ( bahasa berhias/kiasan)
Beda syair dengan pantun :
Syair Pantun
1 Sastra asing
2 Tidak ada sampiran dan isi
3 Sajak aaaa
4 Isi pada seluruh baris
5 Sastra tulis
1 Isi terdapat pada baris 3 dan 4
2 Merupakan sastra lisan
3 Indonesia asli
4 Terdapat sampiran dan isi
5 Ab ab
Beda karmina dengan gurindam :
Karmina Gurindam
1 Indonesia
2 Terdapat sampiran dan isi
3 Rima a a
4 Isi jenaka, percintaan
1 Baris 1 dan 2 terdapat hubungan sebab akibat
2 Rima aa
3 Berisi nasihat
4 India
Puisi Baru
Sajak
1 Distikon terdiri dari 2 baris
2 Tersina terdiri dari 3 baris
3 Quantrin terdiri dari 4 baris
4 Quint terdiri dari 5 baris
5 Sektet terdir dari 6 baris
6 Septima terdiri dari 7 baris
7 Stansa terdiri dari 8 baris
Soneta, berasal dari kata Sonetto atau sonate (bunyi atau suara).
Soneta Indonesia dipengaruhi oleh Dante dan Petraica, berasal dari Italia. Soneta lahir sejak
zaman Yunani. Di Indonesia dipelopori oleh Dr. Muh. Yamin pada tahun 1930. Soneta terdiri dari
14 baris dibagi menjadi 4 yaitu 4 4 sampiran dan 3 3 isi
Puisi Modern
Dipelopori oleh Chairil Anwar, jenisnya adalah :
1 Himne adalah puisi yang berisi pujaan terhadap tuhan
2 Ode adalah puisi yang berisi pujaan terhadap orang yang dicintai atau dikagumi
3 Satire adalah puisi yang berisi sindiran sosial
4 Elegi adalah puisi yang berisi ratapan kesedihan atau cerita sedih
5 Balada adalah puisi yang berisi cerita kepahlawanan
6 Romansa adalah puisi yang berisin luapan cinta
Drama
Drama adalah cerita yang ditulis dalam bentuk dialog disertai peran yang dimainkan oleh para
pelakunya. Drama dapat didefinisikan karya sastra yang menggambarkan kehidupan dan watak melalui
tingkah laku (akting) dan dialog yang dipentaskan.
Struktur drama :
1. tema (ide, amanat, gagasan yang melandasi karya drama tersebut)
2. alur (rangkaian atau jalinan cerita)
3. dialog (percakapan antar pelaku)
4. gerak (gerak dan ekspresi mimik / penjiwaan jalan cerita)
5. karakter/perwatakan/penokohan
6. pementasan
Percakapan dalam drama dibagi menjadi :
1. epilog (pembicaraan penutup atau akhir pentas oleh seorang pemain)
2. dialog ( percakapan dua orang pelaku atau lebih)
3. monolog ( percakapan oleh seorang pemain)
4. prolog ( pengantar sebelum peristiwa berlangsung)
Langkah menulis drama :
1. menentukan tema
2. menentukan tujuan
3. menentukan pelaku dan watak tokohnya
4. menentukan setting, dialog, musik
5. membuat plot (alur/jalan cerita)
Anatomi drama :
1. babak (episode)
2. adegan (rangkaian peristiwa dengan ditandai muncul dan perginya para tokoh)
3. dialog (percakapan)
4. petunjuk pengarang (bagian naskah yang memberi penjelasan kepada pembaca atau awak
pentas pada naskah yang ditulis di dalam kurung)
5. prolog (pengantar drama)
6. epilog (penutup drama)
7. solilokui (ungkapan perasaan pikiran tokoh yang diucapkan pada diri sendiri)
8. aside (dialog yang ditujukan kepada penonton)
Macam-macam drama :
1 tragedi : drama tentang kisah-kisah menyedihkan dan tragis (Romeo dan Juliet – William
Shakespare)
2 komedi : drama yang berisi kisah-kisah lucu / menggelikan (Liburan Seniman – Usmar
Ismail)
3 tragedi komedi : drama yang menggambarkan kesedihan disamping kegembiraan (Saija dan
Adinda – Multatuli)
4 opera : drama dengan iringan musik (Julius Caesar – Muh. Yamin)
5 pantomim : drama yang menekankan pada gerakan tubuh
6 tablo : drama yang hanya dilakukan dengan lisan (seperti sandiwara radio)
7 sendratari : drama dengan tarian dan iringan gamelan atau musik (Jaka Tarub, Ramayana)
8 kloset : drama yang khusus hanya dibaca saja
ROMAN
Roman adalah karangan yang menceritakan kehidupan manusia sejak kecil hingga meninggal dunia.
Roman juga berarti karangan yangmenceritakan sebagian besar kehidupan tokohnya sampai mati.
Berdasarkan isinya roman dibagi menjadi :
1 Roman adat, roman yang membicarakan masalah adat yang tidak sesuai dengan perkembangan
zaman (Azab dan Sengsara-Merari Siregar, Salah Asuhan-Abdul Muis, Asmara Jaya-Adinegoro)
2 Roman bertendens, roman yang bertujuan memperbaiki kehidupan masyarakat (Layar
Terkembang-STA, Sitti Nurbaya-Marah Rusli)
3 Roman sejarah, roman yang ceritanya diambil dari kehidupan lampau dan berhubungan dengan
sejarah (Gajah Mada dan Diponegoro-Muh. Yamin)
4 Roman simbolik, roman yang melukiskan kehidupan manusia dengan simbol-simbol (Tinjaulah
Dunia Sana-Maria Amin, Taufan di Atas Asia-Abu Hanifah/El Hakim)
5 Roman sosial, roman yang membicarakan peristiwa-peristiwa yang ada dalam masyarakat
(Sukreni Gadis Bali-I gusti Panji Trisna, Hati Nurani Manusia-Idrus)
6 Roman detektif, adalah roman yang berhubungan dengan cerita rahasiah kejahatan
(Percobaan Setia-suman HS, Cincin Stempel-Ardi Soma)
7 Roman kejiwaan adalah roman yang menguraikan kehidupan batin pelakunya (Atheis-Achdiyat,
Belenggu- Armyn Pane)
8 Roman keagamaan, roman yang isinya bertema agama (Kemarau-AA Navis,Perjanjian dengan
Maut-Haryadi)
9 Roman picisan, roman yang murahan, dikarang hanya untuk memperoleh untung (Gadis Empat
Zaman-Zalekha, Medan Diwaktu Malam-M. Taufik)
CERPEN
Cerpen adalah karangan pendek dalam bentuk prosa. Cerpen dapat juga berarti cerita yang
melukiskan satu bagian peristiwa kehidupan yang dialami oleh pelakunya.
Ciri-ciri cerpen :
1 Cerita fiktif atau rekaan
2 Pokok cerita terfokus pada satu aspek cerita saja (kesan tunggal)
3 Mengungkapkan hal yang penting-penting saja (singkat, padu dan intensif/ brevity, unity,
intensity)
4 Menyajikan peristiwa dengan jelas
Pelopor cerpen Indonesia adalah Suman HS dan M. Kasim
Perbedaan dengan Novel :
Cerpen Novel
1 Alur sederhana
2 Tokoh sedikit
3 Setting dilukiskan terbatas
4 Tema masalah sederhana
1 Tema masalah yang kompleks dan mempunyai tema-tema bawahan
2 Alur rumit dan panjang terdiri dari beberapa alur
3 Setting luas dan lebih mendetail
4 Banyak karakter tokoh
Jenis cerpen :
1 Cerpen pendek (short short story) terdiri dari 5000 kata/12 hal folio
2 Cerpen panjang (long short story) terdiri dari 10. 000 kata/ sekitar 20-30 hal folio
NOVEL
Novel berasal dari kata Novellus atau novies, yang berarti baru. Novel adalah karangan yang
menceritakan kehidupan yang luar biasa yang dihadapi oleh tokoh yang mengakibatkan perubahan
nasib tokoh tersebut.
Ciri-ciri novel adalah :
1 Perubahan nasib tokoh cerita
2 Ada beberapa episode dalamm kehidupan tokoh utama
3 Tokoh biasanya tidak sampai mati
Pelopor Novel Indonesia : Idrus
Macam-macam novel :
1 Novel percintaan novel yang berisi kisah-kisah cinta yang romantis
2 Novel petualangan
3 Novel fantasi
4 Novel plot atau kejadian adalah novel yang menitikberatkan pada kejadian yang penuh
ketegangan dan surprise. Contoh : Hulubalang Raja karya Nur Sutan Iskandar
5 Novel watak adalah novel yang menitikberatkan pada unsur karakter atau watak tokoh.
Contoh : Atheis
6 Novel tematis adalah novel yang menekankan pada unsur tema atau persoalan dalam cerita
(sosial, agama, politik dan sebagainya)



Resume Buku "Stilistika" Sudiro Satoto

Oleh: Umar Khalid, Mei 2010

BAB I
PENDAHULUAN
A. Pengantar
Bahasa merupakan media utama yang membedakan seni sastra dengan cabang-cabang seni yang lainnya, bahasa merupakan alat komunikasi . Fungsi bahasa adalah untuk memberikan acuan pada pengalaman-pengalaman pemakainya. Pada prinsipnya, seni sastra dapat dipandang dari dua segi kemungkinan:
a. Seni sastra dipandang sebagai bagian dari seni pada umumnya. Pendekatan yang dipakai femonologi atau ganzheit.
b. Pada umumnya seni sastra dipandang sebagai bagian dari ilmu bahasa. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode structural, atau struktural dinamik, yang lebih dikenal dengan istilah semiotika. 
Stilistika merupakan bidang linguistik yang mengemukakan teori dan metodologi pengkajian atau enganalisisan formal sebuah teks sastra, termasuk dalam pengertian extended.
B. Filsafat Keindahan (Estetika)
Estetika berasal dari kata Yunani ‘aesthesis’, berarti perasaan atau sensitivitas. Sekarang, estetika diartikan segala pemikiran filosofis tentang seni. Sehingga estetika juga disebut filsafat seni atau filsafat pendidikan. Estetika, etika, dan logika membentuk trilogi ilmu-ilmu normatif dalam filsafat. . 
Teks sastra dipandang sebagai alat estetika. Masalah-masalah di luar teks sastra (ekstrinsik) banyak diperhitungkan sebagai tolok ukur apakah sastra itu baik dan indah. Fungsi sastra di sini lebih ditekankan dari segi kegunaan dan kemanfaatannya-fungsi ‘utile’. Sebagai bahan baku, bahasa dalam sastra merupakan objek kajian, yang memiliki nilai terminal.. Masalah-masalah yang berada dalam teks (intrinsik) itulah yang menjadi objek utama dalam pengkajiannya. Fungsi sastra di sini lebih ditekankan dari segi kenikmatannya-fungsi ‘dulce’.
1. Periodisasi Estetika
a) Periode platonis atau dogmatis
Periode platonis atau dogmatis merupakan tahap pembentukan pertama. Periode ini berlangsung sejak Socrates (w 399 SM) hingga Baumgarten (1714-1762). Baumgartenlah yang pertama-tama memberi istilah Yunani ‘Aesthetika’; dalam bahasa inggris ‘Aesthetics’; diindonesiakan menjadi ‘Estetika’.
- Periode kritika
Periode kritika ini terbagi menjadi tiga tahap yaitu: (1) Sebelum Emanuel Kant, (2) Zaman Emanuel Kant, (3) Sesudah Emanuel Kant.
- Periode positif dewasa ini
Sejarah estetika menurut pembabakan Croce terbagi ke dalam tiga periode:
(1) Periode sebelum Kant.
(2) Periode Kant beserta para pengikutnya.
(3) Periode pisitif dewasa ini. Periode positif memiliki ciri sangat membenci metafisika.
Abad estetika dewasa ini secara sistematika dibedakan ke dalam:
(a) Estetika bawah (von oben), tidak akan dapat tersistematikan secara rapi tanpa mengabaikan beberapa keganjilan pikiran. Tokoh penting dalam periode estetika atas adalah Nietzsche. Karya-karyanya: “Die geburt der Tragodie”; “Der Fall Wagner”; “Also Sprach Zarathustra”; dan Unzeitgemaesse Betrachtungen”.
(b) Estetika atas (von unten)
Gustav Theodor Fechner (1807-1887) dari Jerman orang yang mengusulkan nama estetika induktif ‘von unten’ sebagai alternatif lain dari estetika metafisika lama ‘von oben’ untuk menentukan konsepsi yang tepat mengenai hakikat dari keindahan yang objektif.
(c) Estetika dari bawah ke atas (von unten nach oben)
Aliran estetika dari bawah ke atas berupaya memadukan antara tuntutan-tuntutan pemikiran yang filosofis dengan keharusan metode penyelidikan secara positif dan terdapat dalam psikologis dan sosiologi muncullah nanti: ‘psiko-estetik’ dan ‘sosio-estetik’.
2. Objek Estetika
Yang menjadi objek utama secara langsung dari estetika adalah keindahan, baik keindahan alam maupun keindahan seni.
3. Metode dan Pendekatan Estetika
Metode dan pendekatan estetika di sini lebih ditekankan pada objek estetikanya yaitu karya sastra.
Berdasarkan diagram model Abrams, metode dan pendekatan karya sastra dapat dirumuskan ke dalam empat model sebagai berikut:
(a) Pendekatan yang menitikberatkan pada karya sastra itu sendiri secara otonom atau mandiri. Pendekatan ini disebut pendekatan objektif.
(b) Pendekatan yang menitikberatkan pada diri sastrawan. Pendekatan demikian disebut pendekatan ekspresif.
(c) Pendekatan yang menitikberatkan pada pembaca atau publik. Pendekatan ini disebut pendekatan pragmatik.
(d) Pendekatan yang menitikberatkan pada alam semesta. Pendekatan ini disebut pendekatan mimetik.
C. Stilistika, Retorika, Wacana, Logika dan Bahasa
Stilistika (Stylistics) adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra. Stilistika sebagai cabang ilmu sastra yang meneliti stail atau gaya, dibedakan ke dalam: stilistika deskriptif dan stilistika genetic
Stilistika genetic atau individual (L. Spitzer) memandang stail, gaya (style) sebagai suatu ungkapan yang khas pribadi. Lewat analisis terinci (motif, pilihan kata) terhadap sebuah karya dapat dilacak visi batin seseorang pengarang, yaitu cara ia mengungkapkan sesuatu. Analisis ini agak mirip dengan psichoanalisis Sigmund Freud. Stilistika deskriptif (Ch. Bally), mendekati (approach) gaya (style) sebagai keseluruhan daya ungkapan psikis yang terkandung dalam suatu bahasa, dan meneliti nilai-nilai ekspresif khusus yang terkandung dalam suatu bahasa, yaitu secara morfologis, sintaksis, semantis. 

Panuti Sudjiman, Edito (1984: 80) memberi batasan wacana (discourse) adalah ungkapan pikiran yang beruntun, secara lisan atau tulisan, tentang suatu pokok.
Logika dan Bahasa Kedudukan dan fungsi bertutur adalah: (1) sebagai pembeda antara manusia dan binatang, (2) menyangkut kegiatan sosial budaya, dan (3) berfungsi informatif. Ada tiga komponen dalam proses berkegiatan tutur yaitu: (i) penutur (komunikator), (ii) tutur atau topik tutur, (iii) penanggap atau penerima tutur (komunikan). 

BAB II
RETORIKA
A. Kegiatan Bertutur dan Retorika
1. Kegiatan Bertutur
Kegiatan bertutur itu pada dasarnya adalah kegiatan manusia membahasakan seesuatu. Sesuatu tersebut lebih lanjut disebut topik tutur. Ada dua jenis bentuk bahasa yang bisa dipakai orang untuk membahasakan topik tutur yaitu, bahasa lisan dan bahasa tulis.
2. Pemanfaatan Retorika
Pada dasarnya ada tiga bentuk cara untuk orang untuk memanfaatkan retorika, yaitu: 
a. Secara spontan atau intuitif
Bentuk ini biasa dipakai dalam pembicaraan sehari-hari, atau salam situasi tidak resmi, dan ragam bahasa, ulasan, dan gaya tuturnya lebih bersifat spontan.
b. Secara tradisional konvensional
Bentuk ini dipakai karena meniru orang-orang terdahulu, dan ditiru karena dianggap baik atau mungkin karena penuturnya merupakan tokoh idola.
c. Secara terencana
Bentuk retorika antara lain: ekposisi atau pemaparan, argumentasi, deskripsi atau pelukisan, narasi atau penceritaan, dan yang terpenting adalah persuasi atau peyakinan. 
B. Pengertian Retorika
1. Istilah Retorik
Di tempat asalnya Yunani, istilah retorika ditulis ‘Retoric’. Itulah sebabnya mengapa I Gusti Ngurah Oka (Bandung, 1976: 24) menulisnya ke dalam bahasa Indonesia ‘Retorik’ (Penyusunan buku ini menulisnya ‘Retorika’).
2. Keragaman Pengertian Retorika
Pengertian retorika berdasarkan sejarah perkembangannya dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Retorika Attic
Retorika adalah kecakapan berpidato di muka umum. Disebut retorika attic karena retorika ini populer di Semenanjung Attic, daerah Yunani.
b. Retorika Sofis
Menurut kelompok sofis, retorika adalah alat untuk memenangkan suatu kasus melalui kegiatan tutur.
Prinsip-prinsip retorika yang diajarkan oleh kaum sofis antara lain: (a) Seorang penutur harus pandai memanfaatkan argumentasi, (b) Penutur harus cakap, terampil, dan pasih berbahasa, (c) Penutur harus pandai memanfaatkan emosi penanggap tutur sebaik-baiknya, (d) penutur harus pandai membakar semangat penanggap tutur, dan (e) Keseluruhan tindak, usaha, dan sarana dalam kegiatan bertutur harus diarahkan ke satu tujuan yaitu kemenangan.
c. Retorika Aristoteles atau Retorika Tradisional
Menurut Aristoteles, retorika adalah ilmu yang mengajar orang, keterampilan menemukan sarana persuasif yang objektif dari suatu kasus.
Ada 4 buah fungsi dasar retorika Aristoteles: (a) memadu orang mengambil keputusan dalam menghadapi berbagai kemungkinan pemecahan suatu kasus, (b) membimbing orang memahami kondisi kejiwaan penanggap tutur, (c) membimbing orang menganalisis suatu kasus secara sistematis objektif untuk menemukan sarana persuasi yang efektif, untuk meyakinkan penanggap tutur, dan (d) mengajarkan orang cara-cara yang efektif untuk mempertahankan gagasan hasil penganalisisan kasus tersebut.
Tujuan retorika Aristoteles, untuk meyakinkan penanggap tutur akan kebenaran kasus yang terkandung di dalam topik tutur.
Sejalan dengan fungsi dan tujuannya, metode yang digunakan adalah metode ilmiah, yaitu metode yang mengajarkan pendekatan masalah dari dua segi yaitu segi dalam (internal), dan segi luar (eksternal).
d. Retorika Modern
Jika retorika tradisional bertujuan mempersuasi pihak lain, maka retorika modern tidak bisa menerima persuasi itu sebagai tujuan akhir retorika. Tujuan retorika modern adalah membina kerja sama, saling pengertian, dan kedamaian antar manusia. Dalam bentuk ini retorika adalah ilmu yang mengajarkan orang menggarap masalah tutur secara heuristik untuk membina saling pengertian dan kerja sama.
3. Penyempitan dan Penyimpangan Pengertian Retorika
Adapun yang dimaksud dengan penyempitan dan penyimpangan pengertian retorika antara lain: (a) penyamaan retorika dengan pengkajian sastra, (b) retorika sebagai gaya bahasa (stilistika) dan gaya bertutur, (c) retorika dipandang sebagai pedoman karang mengarang, (d) retorika sebagai kecakapan bersilat lidah.
4. Pengertian Dasar Retorika
Pokok-pokok pengertian dasar retorika adalah: (a) retorika adalah salah satu cabang ilmu yang mandiri, (b) tujuan retorika modern adalah membina berkembangnya saling pengertian, kerja sama, dan kedamaian bagi manusia dalam hidup bermasyarakat, (c) fungsi retorika memberikan bimbingan kepada penutur untuk mempersiapkan, menata, dan menampilkan tuturnya, sebagai tahap-tahap yang harus dilalui dalam proses kegiatan bertutur. “Retorika adalah ilmu yang mengajarkan tindak dan usaha yang efektif dalam persiapan, penataan, dan penampilan tutur untuk membina saling pengertian dan kerja sama serta kedamaian dalam kehidupan masyarakat”.
C. Renungan
1. Strategi Retorika dan Gambaran tentang Manusia
Carl Rogers, seorang psikoterapis mengemukakan pandangannya tentang manusia bahwa tiap-tiap manusia mempunyai tujuan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ia memandang manusia atas dasar dugaan bahwa manusia harus memegang teguh keyakinannya, dan tentang dunia macam apakah yang disukainya.
2. Kebutuhan akan Retorika Modern
Menguasai retorika itu sangat penting, bukan hanya menguasai teori tentang retorika dan bagaimana seorang itu berkomunikasi, tetapi menguasai proses komunikasi itu sendiri. Sebagai suatu proses, retorika bermula dengan dorongan niat manusia untuk berkomunikasi berbagai pengalaman dengan orang lain.


BAB III
LOGIKA DAN BAHASA
A. Hubungan Logika dan Bahasa
1. Tugas dan Objek Logika
Tugas logika adalah memberikan penerangan bagaimana seharusnya orang berpikir (Poedjawiyatna, 1978:2). Sedang objek penyelidikan logika adalah manusia itu sendiri. Dengan kata lain bahwa tujuan mempelajari logika adalah memecahkan masalah atau mencari jawab permasalahannya yang dapat dirumuskan: bagaimana seharusnya manusia dapat berpikir dengan baik dan benar. 
2. Logika dan Bahasa
Pengetahuan sebagai hasil proses tahu manusia baru tampak nyata apabila dikatakan. Artinya diungkapkan dalam bentuk kata atau bahasa. Dalam ilmu pengetahuan, bahasa harus mampu mengungkapkan maksud si penutur dengan setepat-tepatnya. Bahasa ilmu pengetahuan harus logis. Ilmu berarti pengetahuan-tahu, sebagai hasil proses berpikir harus mengikuti aturan-aturan, yaitu logika.
B. Argumentasi
Argumentasi adalah suatu keahlian untuk mempengaruhi pendapat atau sikap orang lain, agar mereka itu percaya atau bertindak sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh pengarang atau pembicara.
Gorys Keraf mengemukakan bahwa sasaran-sasaran dasar ditetapkan oleh setiap pengarang argumentasi adalah: (a) Argumentasi itu harus mengandung kebenaran bagi perubahan sikap atau keyakinan yang diargumentasikan; (b) Pengarang harus berusaha untuk menghindari setiap istilah yang dapat menimbulkan prasangka-prasangka; (c) Pada saat pertama pengarang menggunakan sesuatu istilah, ia harus membatasi pengertian-pengertian dari istilah yang dipergunakan itu; (d) Pengarang harus menetapkan secara tepat titik ketidaksepakatan yang akan diargumentasikan.
1. Dua Macam Argumentasi
Ada dua macam argumentasi yaitu argumentasi deduktif (deductive argument), dan argumentasi induktif (inductive argumentasi) 
Logika artinya ‘bernalar’. Penalaran (reasoning) ialah prosees mengambil kesimpulan (conclition, inference) dari bahan bukti (argument) atau petunjuk, evidensi (evidence), atau apa yang dianggap bahan bukti atau evidence. Ada dua jalan untuk mengambil kesimpulan yaitu lewat proses induksi dan lewat proses deduksi.
Penalaran lewat induksi ialah penalaran yang berawal pada hal-hal yang khusus atau spesifik dan berakhir pada yang umum. Sedangkan penalaran deduktif ialah penalaran dari hal-hal yang umum ke hal-hal khusus. Penalaran deduksi adalah silogisme yang terjadi dari bagian: 
a. Premis mayor: suatu generalisasi yang meliputi semua unsur kategori, banyak diantaranya atau hanya beberapa unsurnya.
b. Premis minor: penyamaan suatu objek atau ide dengan unsure yang dicakup oleh premis mayor.
Kesimpulan: gagasan yang dihasilkan oleh penerapan generalisasi dalam premis mayor pada peristiwa yang khusus dalam premis minor.
2. Fakta, Evidensi, Pernyataan atau Penegasan, dan Opini
Fakta (fact) atau kenyataan adalah peristiwa yang sebenarnya sebagai lawan dari sesuatu yang khayal atau dongengan.
Evidensi adalah semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu. Pengertian fakta dalam kedudukannya sebagai sebuah evidensi tidak boleh dikacaukan dengan pernyataan atau penegasan. Pernyataan tidak berpengaruh apa-apa terhadap sebuah evidensi. Ia hanya menegaskan apakah fakta itu benar atau salah.
Sebuah evidensi baru dapat diandalkan kebenarannya setelah melalui pengujian sebagai berikut:
(a) Fakta adalah sesuatu yang terjadi atau sesuatu yang ada variasinya, fakta-fakta yang digunakan mungkin sama, tetapi evidensinya bisa lain; (b) Untuk lebih meyakinkan fakta-fakta yang diajukan sebagai evidensi, perlu diadakan peninjauan atau observasi singkat terhadap fakta-fakta tersebut.
(b) Untuk lebih meyakinkan fakta-fakta yang diajukan sebagai evidensi 
(c) Kalau pun sukar dilaksanakan, dapat juga melalui kesaksian-kesaksian, baik saksi biasa maupun saksi ahli (autoritas)
C. Sesat Nalar (Fallacy)
Penggunaan kata ‘sesat’ dalam ‘sesat nalar’ agak berbeda dengan kata ‘salah’, karena hasil yang diperoleh bukan akibat kesalahan penalarannya sebagai suatu konsep, melainkan karena kesesatan akibat tidak lurusnya proses penarikan, kesimpulan berdasarkan aturan logika. Sesat nalar adalah gagasan perkiraan kepercayaan atau kesimpulan yang sesat atau salah.
Ada beberapa jenis sesat nalar yang dapat kita saksikan dalam karangan, yaitu :
1. Deduksi yang Salah
Sesat nalar yang sangat umum terjadi, ialah kesimpulan yang salah dalam silogisme (silogisme semu) yang berpremis salah atau tidak mematuhi aturan logika.
Contoh : 
- Tiko bukan dosen yang baik, karena mahasiswa yang tidak lulus mata kuliah yang diampunya lebih dari 20%.
2. Generalisasi yang Salah
Sesat nalar jenis ini disebut juga induksi yang salah, karena secara jumlah (kuantitatif), jumlah percontohnya (sample) tidak memadai (ingat : kadang-kadang percontoh yang terbatas memungkinkan generalisasi yang tidak sahih.
Contoh :
- Bangsa Indonesia itu bangsa tempe
- Orang China penjajah ekonomi
Dalam kedua contoh diatas perlu diberikan perwatasan misalnya : beberapa, banyak, sebagian kecil, sebagian besar dan sebagainya.
3. Pemikiran atau ini, atau itu
Sesat nalar jenis ini berpangkal pada keinginan untuk melihat masalah yang rumit dari sudut pandangan (yang bertantangan) saja. Isi peryataan ini jika tidak baik, tentu buruk; jika tidak benar tentu salahh;jika tidak ini tentu itu.
Contoh:
Jika senang, masuklah; tetapi jika tidak senang keluarlah dari Universitas Muhammadiyah Surakarta.
4. Salah nilai atau Penyebab
Generalisasi induksi sering disusun berdasarkan pengantar terhadap hukum kausal (sebab akibat). Salah nilai atas penyebaran yang sangat biasa terjadi ialah sesat nalar yang disebut ‘post hoc, ergo propter hoc’, sesudah itu, ‘ maka karena itu’.
Contoh:
- Tersangka meninggal dalam tahanan; maka ia mati karena ditahan.
Salah tafsir sering juga mendasari salah nilai atas penyebaban. Misalnya dalan tahayul.
Contoh:
- Pedagang muda itu selalu sakses usahanya sebab sebelum bekerja ia selalu mencium telapak kaki ibunya.
5. Analogi yang Salah
Analogi ialah usaha pembanding dan merupakan upaya yang berguna untuk mengembangkan perenggan. Namuun, analigi tidak membuktikan apa-apa dan analogi yang salah dapat menyelesaikan, karena logikanya yang salah.
Contoh:
- Rektor harus bertindak seperti seorang jendral, menguasai anak buahnya agar disiplin dipatuhi.
6. Penyampaian Masalah
Sesat nalar jenis ini terjadi jika argumentasi tidak mengenai pokok masalahnya; atau jika kita menukar pokok masalah dengan pokok lain; atau jika kita menyeleweng dari garis yang telah ditentukan dalam kerangka pokok masalahnya.
Contoh :
- KB tidak perlu, karena masih banyah daerah di Indonesia yang masih sangat sedikit penduduknya.
7. Pembenaraan Masalah Lewat Pokok Sampingan
Sesat nalar di sini muncul jika argumentasi menggunakan okok yang tidak langsung berkaitan atau yang remeh untuk membenarkan pendiriannya.
Contoh :
- Orang boleh melanggar lalu lintas, sesab polisi lalu lintas juga sering melanggarnya. 
8. Argumentasi ‘ad homonim’
Sesat nalar jeniis ini terjadii jika dalam berargumentasi kita melawan orangnya, bukan masalahnya. Khusus di bidangg politik argumentasi ini banyak dipakai.
Contoh :
- Pelarangan beredar terhadap buku tertentu (meskipun isinya baik) karena pengarangnya bekas pencuri atau narapidana.
9. Himbauan pada Wibawa dan Keahlian yang Patut Disaksikan
Dalam pembahasan masalah, oarang sering berlindung pada wibawa orang lain, pejabat, atau kalangan ahli saat menyampaiakan dan menggungkapkan argumentasinya.
Contoh :
- Saya telah mendapat petunjuk dari seseorang insinyur, yang kini menjadi menteri kebudayaan, bahwa ekonomi dunia kini berada di persimpangan jalan.
10. Non- Requisite
Sesat nalar jenis ini, dalam argumenttasi mengambil kesimpulan bedasarkan premis yang tidak ada relevansinya.
Contoh :
- Kampus merupakan tempat berkumpulnya para cendekiawan; karena itu, di dalamnya tidak mungkin ada kebodohan.
D. Renungan 
Bahasa sekaligus merupakan ‘ bagian’ tak terpisahkan dengan budaya manusia. Di sini bahasa mempunyai fungsi sosial, sekaligus fungsi kultural. Sebagai alat penyampaian hasil kebudayaan dari generasi ke generasi, bahasa harus komunikatis, lancar, tepatguna, berdayaguna, berhasilguna, dan tidak lupa logis.
Pikir berpengaruh pada bahasan, dan beegitu pula bahasa berpengaruh pada pikir. Pendek kata, bahasa dan logika saling berpengaruh, saling melengkapi. Selama manusia masih menggunakan otaknya untuk berfikir, maka selama itu pula logika bahasa memegang peranan penting.


BAB IV
HUBUNGAN KAJIAN BAHASA DAN SASTRA
APLIKASINYA TERHADAP PROSA, PUISI DAN DRAMA
A. Hubungan Pengkajian Sastra dan Bahasa: Sebuah Kajian Linguistik terhadap alur.
1. Latar belakang dan Masalah
“. . .Ahli gramatika jarang sekali melihat ke luar batasan kalimat, dan ahli sastra jarang sekali melihat ke dalam kalimat untuk mengetarkan bahwa di sana ada struktur-struktur dan sistem-sistem yang mencerminkan arsitektur keseluruhan karya sastra (Backer, 1978:3).
Dalam kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA) 1975 yang diterbitkan oleh departemen dan kebudayaan indonesia bahkan dalam kurikulum SMA Tahun 1984 pun, tampak bahwa pemerian (deskripsi) pada bidang sastra. Untuk membatasi masalah, dalam subbab ini hanya akan dibicarakan aplikasi hubungan bahasa dan sastra dalam kaitannya dengan ‘alur’ (plot).
2. Kerangka Teori
‘ Stilistika’ adalah pemeran (deskripsi) pilihan khusus linguistik seorang pengarang, mulai dari pilihan linguistik yang paling luas tentang alur (plot), yaitu kesatuan keseluruhan (overall coherence) sampai pada pilihan yang paling sempit, yang meliputi pembentukan kalimat dan alinea, termasuk pilihan tentang hubungan linear (ohubunagn sintagmatis) maupun hubungan non-linear, yaitu rangka metaforis (jhubungan paradigmatis). Jadi, stilistika memperhatikan gaya integrasi seluruh tingkat-tingkat dalam, hirarki linguistik suatu teks atau wacana (discourse) (Becker, 1978:3)
Di luar strukturalisme terdapat jenis-jenis hubungan yang lebih luas, yaitu hubungan antara pengarang dengan peminat, antara pengarang dengan penerbit. Makna sebuah teks adalah hubungannya denagn konteksnya. Konneth Burke dalam AB Becker (1978:295) mengatakan bahwa pengarang sastra baik puisi maupun prosa adalah pembentuk bahasa yang sangat pandai memakai sumber-sumber bahasa sehari-hari untuk menciptakan suatu karya sastra dan yang menjadi ‘ peralatan hidup’.
Yang ada di belakang alur dan seript adalah konsep ‘waktu’. Dalam narasi Barat harus ada sesuatu yang penting yaitu ‘ waktu’ (tanses) yang menghubungkan adanya ‘hukun kausal’ (hubungan sebab akibat), itulah alur (plot). Faktor terpenting adalah ‘kalimat’. Sebuah narasi minimal terdiri dari satu kalimat. Karena kalimatlah sebenarnya pendukung makna paling kecil. 
3. Kajian Linguistik terhadap alur
Menurut W. Labov menyelidiki variasi-variasi itu. Apa sebenarnya faktor di belakang variasi itu,. Ternyata terdapat faktor psikologis yang masuk ke dalam struktur bahasa di dalam ilmu Tata Bahasa ke-6 tahapan tersebut dapat dikenali lewat indikator-indikator tertentu. Misalnya:
(1) Abstraksi, biasanya dimulai barang-barang yang abstraksi. Fungsinya sebagai ringkasan intisari, iktisar.
(2) Orientasi, biasanya menunjuk tahap sebelumnya. Dalam keadaan apa ceritera ini bisa terjadi, waktunya, tempatnya (biasanya pengarang memberi gambaran tertentu).
(3) Komplikasi, ciri-ciri dalam narasi banyakmenggunakan prefik me-. ., menunjuk ke keaktifan. Jadi bentuknya, me-. . . , me-. . . , me-. . . ,me-. . .. dalam bahasa Inggris termasuk bentuk simple past tense. Tahap ini menunjuk ke suatu hal yang tidak biasa, kejadian-kejadian yang luar biasa, ke luar dari script timbullah konflik.
(4) Evaluasi. Evaluasi adalah penting kedua di dalam narasi. Tense adalah penting pertama. Evaluasi penting karena memberi petunjuk mengapa kriteria ini diceritakan apa tujuannya, dan apa maksdnya. Hal-hal yang bertele-tele, remeh-remeh sangat tidak perlu didalam narasi, tetapi apa yang terjadi itu adalah evaluasi.
(5) Resolusi. Masih di dalam ceritanya. Masih didalam kejadian menurut sesuatu. Dalam tahap ini keadaan mulai menurun. Ciri-ciri dalam ttata bahasa ditandai denagn prefik di. . .dan ter. . .Dalam tahap ini kalimat-kkalimat yang ada dii dalamnya menunjukkan gerak dari ‘ keaktifan’ ke ‘kepasifan’. 
(6) Coda (ekor). Dari berakhirnay ceritera, ia kembali ke dalam suasana atau keadaan sekarang ini. 
4. Hubungan ‘ Sintagmatik’ dan ‘Paradigmatik’
Ada dua konsep waktu yang paling penting yaitu, konsep waktu ‘sintagmatik’ (linear); dan konsep waktu ‘ paradigmatik’ (non linear).
Dalam suatu wacana (discourse), kata-kata muncul secara berurutan. Linearitas bahasa meniadakan kemungkinan adanya dua unsur bahasa diucapkan sekaligus. Kkombinasi unsur-unsur berdasarkan urutan ini dinamakan ‘ syntagme’. Jadi hubungan “sintagmatik’ adalah hubungan unsur-unsur kebahasan yang muncul dalam satu urutan, sesuai denagn linearitas bahasa (Saussure, 1963:170-173). Contoh : ‘ saya masuk warung, makan dan minum, kopi.
Di luar wacana, kata-kata yang mempunyai salah satu segi persamaan dapat berasosiasi dalam pikiran, dan terbentuklah kelompok kata-kata yang mempunyai hubungan yang berbeda-beda. Hubungan ini disebut ‘ paradigmatik’ berada dalam pikiran, merupakan kemempuan pribadi seseorang, dalam bahasa (Saussure, 1969:170-175).
Dapat dikatakan bahwa tahap ‘Komplikasi’ dan ‘Resolusi’ ada hubungan ‘sintagmatik’; sedang tahaptahap ‘Abstraksi’; Orientasi, Evaluasi, dan ‘coda’ ada hubungan ‘ paradigmatik’.
5. Renungan
Ada hubungan fundamental pengkajian sastra dan bahasa. Sebaiknya ahli sastra dan ahli gramatika mempelajari hubungan keduannya untuk memperoleh hasil pengkajian yang utuh. Stilistika bisa dipakai sebagai sarana pengkajian tersebut. Stilistika adalah biidang sastar yang paling dekat denagn ‘retorika’. Retorika bicara tentang komposisi, argumentasi, dan pidato.
Makna sebuah teks adalah hubungannya denagn konteksnya. Strukturalisme memberi kedisiplinan untuk mengkaji mulai denagn konteks dalam teks. Berdasarkan tingkatannya, ada hubungan ‘parataktik’ (koordinasi) dan ‘hipotaktik. 
B. Bahasa Puisi
Ciri-ciri bahasa sehari-hari dan bahasa sastra atau bahasa puisi tidak selamnya ajeg (consisitent). Artinya, ada bahasa sehari-hari yang bercirikan bahasa puisi, dan sebaliknya ada bahasa puisi yang bercirikan bahasa sehari- hari. Bahkan ciri-ciri bahsa puisi, prosa dan drama saling tumpang tindih.
Bahasa puisi tidak selalu bberupa ‘ekspresi hiasan’; bukan juga keindahan yang menjadikannya ciri khasnya; tidak pula identik dengan bahsa emosional; dan tidak sepenuhnya bercirikan secra khusus oleh kekongkritannya atau keplaktisan, ini berarti kemenduaan.
Dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa ciri bahasa puisi mengggunakan bahasa yang fungsi estetiknya dominan. Sedang bahasa sehari-hari lebih mengacu pada fungsi kegunaannya (pragmatik). Jan Mukarovsky (1976:6) mengemukakan bahwa bahasa puisi itu menempatkan fungsi sebagai ciri khusus yang tetap. Fungsinya merupakan modus pemanfaatan ssifat-sitfat dari gejala-gejala yang dikemukakan secara fungsional bahsa puisi adalah suati adaptasi ;linguistik ke arah suatu tujuan ekspresi lingustik.
Berdasarkan uraian di atas, puisi berbeda dengan retorika. Puisi berfungsi untuk membangkitkan keeharuan dan emosional sedang retorika berfungsi untuk menyampaikan ide atau gagasan. Pembedaan antara puisi dan retorika tidak bersifat linguistik, walaupun metafora yang bersifat linguistik bukan sebagai sarana puitik. Jadi jelas bahwa puisi atau bukan puisi adalah konvensi atau kebiasaan masyarakat. Demikian juga bahasa puisi yang menentukan adalah konvensi masyarakat.
C. Bahasa Drama Kedudukan, Fungsi, Peranan dan Gaya
1. Hubungan pengkajian Bahasa, Sastra, Budaya, dan Seni Tradisional.
Yang dimaksuud ‘Teater Tradisional” adalah jenis teatter daerah atau etnis yang telah mentradisi sifatnya. Seni teater tradisional bersifat kedaerahan di dalam masyarakat sudah ada, dan berjalan berabad-abad lamanya. Ia telah merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. 
Teater Tradisional tersebut karena sifat kedaerahannya, umumnya menggunakan bahasa daerah sebagaiu medianya. Bahasa daerah berfungsi sebagai: (1) lambang kebanggaan daerah, (2) lambang identitas daerah, dan (3) alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah.
Pembinaan bahasa daerah dilakukan dalam rangka pengembangan bahasa Indonesia dan untuk memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia dan khasanah kebudayaan nasional sebaggai salah satu sarana identitas nasional. 
2. Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Seni
Pembinaan kesenian daerah (dalam konteks ini , baca: Seni Teater Tradisional) ditingkatkan dalam rangka mengembangkan kesenian nasional agar dapat lebih memperkaya kesenian Indonesia yang beraneka ragam.
Tradi dan peninggalan sejarah (termasuk dari Seni Teater Tradisional) yang mempunyai nilai perjuangan bangsa, kebanggan serta kemanfaatan nasional tetap terepelihara dan dibina untuk memupuk, memperkaya dan memberi corak pada kebudayaan nasional.
Seni Teater Tradisional dalam program Sosio Drama yang dimaksud ialah suatu bentuk kesenian yang menyatu denagn kehidupan masyarakatnya, dan mempunyai sifat spontan, sederhana, improvisasi, akrab, serta dapat langsung menyampaikan pesan yang mudah diresapi oleh masyarakat lingkungannya.
3. Teater Tradisional sebagai Media Komunikasi
Komunikasi , merupakan dasar dari pada hubungan antar manusia yang ada di dalam masyarakat. Komuniukasi merupakan mekanisme atau sarana dalam pengoperan rangsangan yang berupa pesan pembangunan di dalam masyarakat yang sedang giat-giatnya membangun.
Teater Tradisional pada umumnya disajikan dengan menggunakan bahasa lisan (maksudnya tanpa naskah lakon) dalam cakapannya. Bahasa tulis baku sudah banyak kriteria yang bisa dipedomani: (a) jika menyangkut masalah kosa kata, berpedoman pada KUBI; (b) jiika menyangkut masalah peristilahan, berpedomanlah pada PUPI; (c) Juka menyangkut masalah ejaan, berpedomanlah pada PU EYD; (d) Jika menyangkut masalah gramatika atau ketatabahasaan, berpedomanlah pada buku-buku tatabahasa yang sekarang kita gunakan. Teater Tradisional pada umunya tumbuh, hidup, dan berkembang di daerah-daerah. Bahasa yang digunakan pada umumnya adalah bahasa lisan daerah. Disajikan dalam situasi tak resmi. Itu bukan berarti bahwa penggunaan bahasanya bisa dilaksanakan denagn semena-mena.
Kerjasama antar orang Indonesia, ini berarti bahwa proses komunikasinya harus melibatkan seluruh masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat pedesaan yang sebagian besar (80 %) mereka menggunakan bahasa daerahsebagai media komunikasi mereka.
4. Filsafat komunikasi Negara Sedang Berkembang
Proses komunikasi tidak bisa terlepas dari proses politik dan slosiokultural pada suatu masyarakat.
Peranan komunikasi di dalam negara sedang berkembang menjadi (a) penyebab dan pembawa perubahan, (b) pengubah tradisi (dalam arti positif maupun negatif), (c) penimbul tuntutan dan harapan baru yang belum dikenal, (d) penyebab urbanisasi di mana urbanisasi merupakan penyebab dari pengakhiran buta huruf, dan (e) pengakhir buta huruf serta pengaruh dari media elektronika mempertinggi pengaruh media, serta kecenderungan mempercepat proses pembangunan ke modernisasi.
Fungsi komunikasi di dalam negara sedang berkembang adalah pendidikan dan penerangan dalam usaha mengatasi segala macam problema yang bisa timbul akibat logis dari proses pembauran (penekanannya pada integritas) dan pembaruan dengan jalan membangun di segala bidang.
Pekerjan pengoperan atau estafet atas pesan dari keyakinan yang dimaksud dalam suatu issue tidaklahmudah. Diperlukan retorika dan seni berkomunikasi. Di sini diperlukan adanya keserasian antara komunikator si pembawa pesan denagn sarana komunikasi ( dalam hal ini seni Teater Tradisional)
5. Seniman sebagai Humas dan Komunikator
Sebagai pemain dalam seni teater tradisional, di samping fungsinya sebagai poemeran watak tokoh, seniman juga berperan sebagai komunikator. Dalam fungsinya sebagai komunikator pada masyarkat Indonesia yang sedang melaksanakan tugas pembangunan termasuk di dalamnya usaha membangun bahasanya, seniman bisa saja menyisipkan pesan yang sedang menjadi issue pembinaan dan pengembangan bahasa. Yaitu gunakanlah bahasa dengan baik dan benar menuju bahsa Indonesia modern yang mampu mengungkapkan konsepsi, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni bahsa Indonesia yang tidak memberi kesan rancu dan kacau sampai batas-batas perkembangan dan kewajaran. 
6. Pengindonesiaan Teater Tradisional
Perlu dikemukakan terlebih dahulu beberapa istilah seni sastra dan teater yang menggunakan kata Indonesia sebagai atributnya dan sering menimbulkan kekacauan. Yang dimaksud di sisni antara lain:
1) Apa yang dimaksud dengan sastra Indonesia
(a) Satra yang menggunakan bahasa Indonesia
(b) Sastra yang ditulis orang Indonesia
(c) Sastra tentang Indonesia
(d) Sastra yang beredar di Indonesia
(e) Sastra yang terbit di Indonesia dan sebagainya.
Dilihat dari segi kedudukan dan fungsinya, bahasa Indonesia adalah sebagai identitas suatu bangsa, yaitu bahasa Indonesia. Maka dalam konteks ini, sastra Indonesia adalah sastra yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai medianya.
2) Analog dengan rumus no. 1 di atas, Sastra Daerah adalah sastra (termasuk seni teater) yang menggunakan bahasa daerah sebagai medianya. Karena bahasa daerah mempunyai fungsi sebagai identitas kedaerahan. 
Pengindonesiaan teater tradisional, bentuk wayang misalnya, tidak sekedar pengalihbatasan dari bahsa Daerah ke dalam bahasa Indonesia, tetapi juga proses alih kode dan alih budayanya itu tidak mudah. Pendekatan semiotika dan stilistika dalam karya sastra, dengan melibatkan telaah estetika terhadap kode sastra , kode bahasa, dan kode budaya dalam satu hihirarki tersistem, dimungkinkann bisa memberi kemudahan dalam pemahaman, sekaligus memberi makan ayang bulat utuh.
7. Gaya Bahasa Drama
Bahasa dalam drama, lazimnya menggunakan bahasa dalam bentuk cakapan (dialog atau monolog: monolog, aside atau sampingan, solilokul). Bahasa cakapan mengacu pada citraan dengaran (auditory imagery). Hal ini menyiratkan kepada kita bahwa bahasa drama hendaknya memperhitungkan kemungkinan pementasannya untuk didengar penonton artinya tidak sekedar untuk dibaca seperti halnya dalam drama baca atau drama literer.
Salah satu perbedaan antara jenis drama dengan jenis puisi terletak pada cara dan teknik penggunaan aspek bahasanya. Genre drama kata lebih bergantung pada cara dan teknik pemanfaatan cakapan. Cakapan dalanm drama harus dapat melukiskan tikaian (konflik). Pada dasarnya, cakapan (di samping penokohan atau perwatakan, dan gerak ) adalah perwujudan dari tikaian atau konflik yang menjadi hakikat sebuah drama.
Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam bahasa drama: (1) Bahasa drma hendaknya mampu melahirkan mpermasalahan yang harus dipikirkan, dirasakan, dipecahkan oleh tokoh-tokoh watak, (2) Bahasa drma hendaknya bisa menggambarkan kekhasan masing-masing tokoh wataknya dan (3) Bahasa drama hendaknya mampu membina alur dramatis (dramatic plot). 
Pengkajian aspek bahasa, gaya, stail (style) bertujuan untuk melukiskan sejauh mana keberhasilan seorang teaterawan menggarap cakapan, sesuai dengan aplikasi bahasa kreatif yang imaginatif, figuratif, simbolik, metaforik, dan memiliki unsur-unsur estetika bahasa.
a. Gaya Bahasa Drama Sejarah
Sifat umum dalam Drama Sejarah adalah banyak menggunakan gaya bahasa arkaik (archaic = kuno sudah tidak lagi dipakai) dengan menggunakan unsur-unsur gramatika yang membina kata-kata yang indah, penuh kiasan perbandingan, dan kadang-kadang terasa bombastis, yaitu penggunaaan kata-kata yang muluk-muluk. Hal ini dipengaruhu oleh gaya bahasa drama-drama Shakespcare. Gaya bahasa drama sejarah ini sering menggunakan bahasa berirama (sajak), yaitu gaya bahasa drama liris atau drama puitis.
b. Gaya Bahasa Drama Realisme
Jenis drama merupakan jenis bahasa yang paling efektif daripada jenis prosa dan puisi. Sebenarnya, dialog atau cakapan dalam drama memang cenderung mengabaikan berbagai corak keindahan bahasa disamping sifatnya yang idiomatik dan untuk menyesuaikan gaya dramawan pada zamannya. Gaya yang digunakan diciptakan untuk menghidupkan suasana realitas.
Gaya bahasa dengan memperhilangkan fonem: baik di muka (eferesis), di tengah (syncope), maupun di belakang (apocope), merupakan gaya bahasa realis yang menimbulkan suasana realis atau seharian.
Kelebihan gaya bahasa drama realis ini, dengan menggunakan bahasa sehari-hari dalam dialognya, diharapkan lakon akan lebih akrab dan intim denagn publiknya (Roger Fowler, 1975:92-95; Lihat juga: Stein Hauhom Olesan, dalam Style. 1978:12-13; dan 76-79).
c. Gaya Bahasa Drama Absurdisme
Di Indonesia, gaya absurdisme dalam drama dimulai dengan munculnya drama-drama Iwan Simatupang. Salah satu ciri drama yang absurdisme ialah, bahasanya agak sukar dipahami jika dibanding dengan gaya drama realisme. Hal ini disebabkan absurdisme diniatkan untuk menyampaikan gejolak-gejolak batin manusia, dan masalah-masalah yang ada di dalam jiwanya. Dalam gaya absurdisme sering kita jumpai pula perulangan-perulangan yang salah satu fungsinya untuk membina struktur alur dramatik, yang bisa pula menimbulkan tegangan-tegangan. Gejala gaya bahasa absurdisme dalam drama ini terjadi di Barat, yaitu munculnya aliran baru yaitu anti realisme. 


BAB V
GAYA BAHASA
A. Hakikat dan Syarat Gaya Bahasa
1. Hakikat dan pengertian gaya bahasa
Hakikat gaya (style) adalah cara mengungkapkan diri sendiri, baik melalui bahasa, tingkah laku, dan sebagainya. Dengan mempelajari gaya dari seseorang, kita akan mengetahui dan menilai pribadi, watak dan kemampuan sseorang yang bersangkutan. Gaya bahasa merupakan bagian dari pilihan kata atau diksi yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata. Jangkauan gaya bahasa sangat luas, tidak hannya meliputi unsur-unsur kalimat yang memperhatikan corak-corak tertentu, seperti yang umum terdapat dalam retorika-retorika klasik. 
2. Syarat-syarat gaya bahasa
Menurut Gorys Keraf, 1981: 99 (dalam Soediro Satoto, 1995: 126-127) menyatakan bahwa gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur dasar yaitu kejujuran, sopan-santun, dan menarik.

B. Jenis-jenis dan Ragam Gaya Bahasa
1. Berdasarkan titik tolak yang dipergunakan
Gorys Keraf, 1981: 127 (dalam Soediro Satoto, 1995: 127) mengklasifikasikan gaya bahasa berdasarkan titik tolak yang dipergunakan ke dalam empat jenis, antara lain:
a. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata
Gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi-situasi tertentu. Dalam bahasa standar dapat dibedakan, yaitu 
1) Gaya bahasa resmi
2) Gaya bahasa tak resmi
3) Gaya bahasa percakapan

b. Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat
Ada beberapa gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat, antara lain:
1) Struktur kalimat
Dilihat dari segi kegayabahasaannya, kalimat-kalimat dapat bersifat periodik, kendur dan berimbang (Gorys Keraf, 1981: 106-108, dalam Soediro Satoto, 1995: 127).
2) Gaya bahasa
Berdasarkan corak struktur kalimat, gaya bahasa dibagi menjadi lima yaitu klimaks, antiklimaks, repetisi, pararellisme, dan antitesis. (Gorys Keraf, 1981: 108-111, dalam Soediro Satoto, 1995: 127).
c. Gaya bahasa berdasarkan nada
Berdasarkan nada yang terkandung dalam sebuah wacana, gaya bahasa dibedakan ke dalam: gaya sederhana, gaya mulia dan bertebaga, dan gaya menengah. (Gorys Keraf, 1981: 111-114, dalam Soediro Satoto, 1995: 128). 
d. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna
Berdasarkan langsung tidaknya makna, gaya bahasa dibedakan, antara lain:
1) Gaya bahasa retoris
Gaya bahasa retoris dibedakan menjadi beberapa yaitu: aliterasi, inverse, apofasis, apostrof, asidenton, kiasmus, ellipsis, eufemismus, hysteron porteron, ironi, litotes, muendo, perfrasis, pleonasme, prolepsis, pernyataan retoris, silepsis dan zeugma (Gorys Keraf, 1981: 114-121, dalam Soediro Satoto, 1995: 127).
2) Gaya bahasa kiasan
Gaya bahasa kiasan adalah gaya yang dilihat darii segi makna tidak dapat ditafsirkan sesuai dengan makna-kata-kata yan membentuknya. Gaya bahasa ini, pertama dibentuk berdasarkan perbandingan dan persamaan. Perbandingan berbentuk bahasa kiasan pada mulanya dari analogi. 

2. Berdasarkan maksud dan tujuan yang hendak dicapai
Gaya bahasa merupakan sarana penunjang bagi pengembangan kosakata, keterampilan berbahasa, pemahamn serta penghayatan karya sastra. Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Berdasarkan masud dan tujuan yang hendak dicapai, maka gaya bahasa dapat dibedakan atas:
1) Gaya bahasa perbandingan
2) Gaya bahasa pertentangan
3) Gaya bahasa pertautan


DAFTAR PUSTAKA

Satoto, Soediro. 1995. Stilistika. Surakarta: STSI Press Surakarta
 Umar Khalid_Bahasa & Sastra  19:02
Jenis Makna Idiomatikal dan Peribahasa
Untuk kita memahami apa yang dimaksudkan idiomatikal terlebih dahulu kita perluketahui apa yang dimaksudkan dengan idiom. Idom adalah satuan bahasa (kata, frasa,kalimat) yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna leksikal unsur-unsurnyamahupun makna gramatikal satuan tersebut. umpamanya, menurut kaedah gramatik kata-kata ketakutan, kesedihan, keberanian, dan kebimbangan memiliki makna hal yangdisebut bentuk bentuk dasarnya. Tetapi katakem aluan tidak memiliki makna seperti itu.Oleh sebab makna idiom ini tidak lagi berkaitan dengan makna leksikal atau maknagramatik, maka bentuk-bentuk idiom ini ada juga yang menyebutkan sebagai satuan-satuan leksikal tersendiri. Idiom ini mempunyai dua jenis bentuk idiom iaitu idiom penuhdan idiom sebahagian. Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secarakeseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satu makna. Manakala, idiomsebahagian masih ada unsur yang memiliki makna leksikalnya sendiri.Namun terdapatkekeliruan terhadap penggunaan istilah idiom, ungkapan dan metafora. Ketiga-tida istilahini mencakupi bidang yang hampir sama. Hanya segi pandangannya yang berlainan.Idiom dilihat dari segi makna iaitu ”menyimpang” makna idiom ini dari makna leksikaldan makna gramatik dalam pembentukannya. Ungkapan dilihat dari segi ekspresikebahasaan, iaitu dalam usaha penutur untuk menyampaikan fikiran, perasaan, danemosinya dalam bentuk satuan bahasa tertentu yang dianggap paling tepat.Sedangkanmetafora dilihat dari segi penggunaanya dalam perbandingan sepertimatahari dikatakanatau dibandingkan sebagai raja siang,pahlawan sebagai bunga bangsa, danbulansebagai puteri malam. Oleh sebab peribahasa ini bersifat membandingkan ataumengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan. Kata-kata
seperti, bagai, bak ,laksana, dan umpama sering digunakan dalam peribahasa. Memang
banyak juga peribahasa yang tidak menggunakan kata-kata tersebut, namun kesanperibahasanya itu tetap nampak. Misalnya, Tong kosong nyaring bunyinya. Peribahasa inidapat diertikan ’orang yang tiada berilmu itu dibandingkan dengan tong yang kosong’.Apabila tin kosong yang diketuk akan menghasilkan bunyi nyaring manakala tin yangberisi penuh tentu tidak akan berbunyi. Sebaliknya orang yang bijak pandai biasanyapendiaam dan menunduk. Keadaan ini disebutkan dengan peribahasa yang berbunyi
Bagai padi, semakin kecil, semakin beris



Diksi ialah pilihan kata. Artinya, seseorang memilih dan menggunakan kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Pilihan kata merupakan unsur yang penting bagi pengarang dalam membuat karangan dan pernyair dalam membuat puisi. Dengan kata yang tepat, pengarang atau penyair dapat mengungkapkan secara tepat apa yang ingin disampaikan kepada pembacanya. Dalam karang-mengarang baik prosa maupun puisi, diksi berkaitan erat dengan gaya bahasa. Pilihan atau penggunaan kata dalam mengungkapkan sesuatu dapat menjadikan sebuah kata memiliki kemungkinan makna yang banyak. Kata dapat diartikan secara leksikal atau sesuai konsep, tapi juga dapat diartikan secara kontekstual, sesuai dengan situasi pemakaiannya. Kemungkinan sebuah kata diartikan secara leksikal maupun kontekstual dalam mengungkapkan maksud atau dengan kata lain sebuah kata dapat bermakna denotatif maupun konotatif. Selain kedua makna tersebut, di dalam bahasa Indonesia terdapat pula makna idiomatik, seperti ungkapan, majas, serta peribahasa.
Sumber :
IRMAN, Mokhamad dkk, 2008, Bahasa Indonesia 3 : untuk SMK/MAK Semua Program Keahlian Kelas X, Jakarta : Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, h. 61

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar